Menelaah Amazon Go Shopping Experience!

Baru-baru ini saya melihat dengan antusias sebuah video review yang menunjukkan bagaimana seorang youtuber mencoba berbelanja di Amazon Go.

Toko Retail pertama tanpa kasir milik Amazon.

Karena sangat berhubungan dengan sebuah experience design, saya tertarik untuk menuliskannya disini.

Disclaimer! Beberapa catatan tentang tulisan ini:

  1. Ini murni apa yang saya pikirkan saat artikel ini ditulis terhadap Amazon Go.
  2. Saya belum pernah merasakan langsung Amazon Go di Seattle, USA, jadi mungkin tulisan ini bisa dikembangkan setelah saya merasakan berbelanja langsung disana.

Source of Perspective

Sumber utama dengan menonton video youtube yang diatas berulang kali sehingga saya mampu mengcapture lebih baik tentang pengalaman pengguna nya.

Untuk menambah perspektif, saya juga membaca beberapa tulisan tentang Amazon Go Shopping Experience antara lain:

Examining the User Experience of Amazon Go Shopping — Just Walk Out, https://blog.prototypr.io/examining-the-user-experience-of-amazon-go-shopping-just-walk-out-bfeda3c9ce39

Why Amazon Go Impressed the Hell out of Us, https://www.glg.com/blog/amazongo

Nielsen Global E-Commerce and the New Retail Report: The Future of Grocery,” Nielsen website, April 2015

X Moonshot

Menurut saya, Amazon Go adalah sebuah contoh inovasi yang mampu mengubah obstacles menjadi sebuah insight lalu menjadi sebuah business opportunity yang menarik bagi mereka(pihak Amazon).

Obstacles Retail sejauh ini:

  1. Salah satu hal yang menyebabkan orang malas berbelanja di retail secara langsung adalah lamanya antri di kasir. (Dari Research Nielsen)
  2. Pengeluaran rutin retail untuk staff kasir ketika dihitung teryata hampir 30% dari total cost operasional. (Juga dari Research Nielsen)
Menunggu di kasir
Menunggu di kasir itu sungguh geregetan Apalagi kalo banyak yang antri.

Insight:

Dari report saya baca di Nielsen Global E-Commerce Report – tentang the future of online shopping and in-store digital technology.

Saya mendapati beberapa pernyataan menarik seperti suatu saat hal-hal yang itu tidak efektif waktu seperti antri di kasir, tanya harga, bayar, dan menunggu kembalian akan digantikan oleh suatu teknologi atau pengalaman baru yang lebih efisien waktu.

Nah.

Menurut saya Amazon Go dengan tanpa kasir tersebut ingin memberikan experience berbeda dalam berbelanja. Menjadi pioner inovasi untuk cara berbelanja.

Disatu sisi dengan cara belanja scan-ambil-bawa pulang, juga mampu menghemat waktu berharga milik customer sehingga customer mereka bener-bener mampu mengontrol waktu mereka sendiri.


Untuk Startup

Bagi Startup langkah Amazon dapat dijadikan sebuah studi kasus yang menarik. Kita tentu menunggu dampak dan perubahan di angka sales mereka karena Inovasi ini.

Mereka udah jadi raksasa namun terus berusaha menghadirkan inovasi-inovasi yang baru layaknya startup yang baru.


Untuk UX Designer

Selain itu, langkah Amazon juga seakan menampar sekaligus menantang para UX Designer dalam membangun sebuah produk yang baru.

Kalau Amazon Go aja layanan nya seperti magic gitu, orang bisa beli, barang otomatis nambah di virtual checkout, lalu tinggal pulang.

Masa kita mau bikin produk atau layanan yang flownya bertele-tele, tidak efektif waktu bagi user.

Amazon Go telah mengangkat level dari arti sebuah “layanan” itu sendiri.

By Iosi Pratama

Hi, I'm Iosi. I do design digital products. Other than that, I'd love doing photography. writing, and doing sports. Let's be my friend. Grab me on Twitter @iosipratama

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *