Pare dan Bali, tempat penuh dengan sudut pandang

Dua tempat yang memberikanku perspektif lebih luas tentang Indonesia dan Dunia

Kampung Inggris, Pare membuka mataku tentang Indonesia. Bali membuka mataku tentang dunia.

Saya percaya perspektif atau sudut pandang adalah bahan bakar kebijaksaan. Bahan bakar dalam membantu kita mengambil sebuah keputusan atau sikap terhadap suatu hal yang terjadi di sekitar kita.

Kali ini saya ingin menulis 2 tempat yang menurut saya cukup memberikan banyak sekali perspektif unik tentang hidup, tujuan, dan pengembangan diri.

Kampung Inggris, Pare.

Pertama kali saya ke Pare adalah 2 tahun yang lalu, tepatnya Juli 2017. Saat itu saya ke Pare dalam rangka belajar toefle demi melanjutkan kuliah di Singapura.

Di Pare saya belajar di sebuah community college atau kursusan bernama TEST English School.

Di TEST dan ini lah, saya mengamati dan belajar hal-hal yang sebelumnya belum pelajari dimanapun.

Belajar caranya belajar, Belajar mempermak sifat malu atau bagaimana lebih percaya diri, dan belajar pengembangan diri lainnya.

Disamping itu, Pare juga mengenalkan ku dengan teman-teman dari berbagai daerah, berbagai provinsi dan pulau. Kalau diurut, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTB, dan Papua dan berbagai daerah lainnya.

Saat itu banyak sekali pelajaran dan hikmah yang saya tangkap dengan mengobrol maupun mengamati bagaimana cara mereka bertahan hidup di Pare.


Kerobokan, Bali.

Sudah sekitar 3 minggu saya tinggal di Bali dalam rangka bekerja di sebuah perusahaan asal Estonia yang berlokasi di Bali.

3 Minggu itu lah yang sedikit banyak membuka pandangan saya terhadap bagaimana orang diluar Indonesia (katakan: Bule) menjalani hidup.

Kalau dulu melihat Bule adalah hal yang wah.

Sekarang Allhamdulillah setiap hari berinteraksi dengan bule-bule.

Berbicara tentang perusahaan tempat ku bekerja sekarang pun, kita benar-benar beragam. Hindu, Budha, Kristen, Agnostic, dan saya beserta beberapa teman Islam.

Disini(Kerobokan, Bali) Islam minoritas. Saya merasakan hal itu dari fasilitas ibadah dan makanan yang tersedia. Hal ini sempat memberikan saya sedikit shock culture. Namun disini justru saya benar-benar tertantang untuk menjalankan peran sebagai muslim dan berkemsempatan berdakwah dengan perilaku yang saya tunjukkan.

By the way, CEO saya orang Belanda dengan senang hati memberikan saya ruang dan waktu untuk beribadah dan itu adalah hal yang patut disyukuri.

Yaa tentu kalau nggak boleh beribadah maka saya akan resign tanpa pertimbangan yang lain lagi.

By Iosi Pratama

Hi, I'm Iosi. I do design digital products. Other than that, I'd love doing photography. writing, and doing sports. Let's be my friend. Grab me on Twitter @iosipratama

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *